cover art grim trials indonesia
Grim Trials memberikan pengalaman bermain roguelike dengan cerita yang tak kalah pentingnya dari combat dan perulangan

Grim Trials adalah sebuah game action heavy metal roguelike yang membawa cerita mengenai kematian, penyesalan dan amarah lewat combat dan elemen roguelike yang saling melengkapi.

Glory Jam juga bisa membawakan sebuah game action, atau heavy metal action roguelike dengan pendekatan yang lebih arcade, ini sangat bisa dirasakan sedari awal permainan dan sebagai pemain, saya merasa seperti memainkan sebuah game mobile, namun disaat yang sama juga terasa seperti memainkan game online dengan goal, arah dan tujuan yang jelas.

Cerita

Secara cerita Grim Trials sebenarnya cukup sederhana dan mudah untuk dipahami, kita diajak dalam ujian atau ospek para Grim reaper di akademi, yang mana Avelin secara “beruntung” terlibat di dalamnya dan sebagai syarat dirinya bisa kembali bertemu sang kekasih, Timmy.

Avelin hanya bisa pasrah dan mengikuti arahan John sebagai guru Grim reaper pada ujian di akademi, yang mana kita atau Avelin harus bisa mengalahkan 7 pendosa besar.

Secara alur sendiri Grim Trials murni linear dengan penggalan cerita dan progress dikunci lewat progress permainan per boss battle dengan sistem perulangan ala roguelike. Selain Avelin, kita juga berangsur-angsur belajar dan mengenal para NPC di akademi, dan spoiler ternyata juga sebelumnya adalah manusia yang punya masa lalu dan penyesalan.

Glory Jam juga bisa membawakan penokohan yang alami dan tanpa paksaan, Avelin seiring waktu mulai berkembang pun juga dengan dirinya yang semakin akrab dan juga mengetahui masa lalu dari para NPC lewat main quest dan side quest.

Sebagai pemain saya tidak hanya mulai peduli dengan apa yang Avelin rasakan dan perjuangkan, namun secara tidak langsung diajak untuk tahu bagaimana masa lalu dan sebenarnya dari Kai, Milyun, Ivanya dan lainnya.

Visual

Untuk aspek visual sendiri rasanya hal pertama yang terngiang adalah, Grim Trials mengingatkan pada Hades. Namun dengan warna yang lebih berani yang dipadukan dengan goresan linework yang lebih gelap dan tebal.

Secara desain karakter pun sebenarnya cukup sederhana tanpa ada elemen yang membuatnya menjadi overdesign, ini juga dipresentasikan dengan baik lewat berbagai desain monster dan boss yang cukup variatif dan secara kasat mata bisa dibedakan dengan baik, karena sebagai game action yang cukup fast paced,mengetahui jenis musuh dari siluet adalah hal dasar bagi kita sebagai pemain.

Meskipun begitu bukan berarti tanpa celah, beberapa siluet dan desain dari musuh justru bertabrakan pada salah satu stage, yang mana entah menjadi sebuah tantangan tersendiri atau memang murni art direction yang kurang.

Selain itu untuk urusan menu, navigasi dan user experience sendiri sudah cukup sederhana. Mulai dari skill tree, inventory, bestiary, maupun mini game pada saat crafting semuanya dipresentasikan dengan baik dan sederhana. Utamanya crafting yang cukup rewarding saat dengan tepat mengenai timing pada button. 

Gameplay & Mechanics

Sama halnya dengan game roguelike lain, di Grim Trials kita juga akan bersahabat baik dengan namanya game over. Karena semakin sering main, semakin sering kalah artinya kembali menjadi lebih kuat dan adaptif.

Secara tingkat kesulitan pun, sejujurnya ini game yang sulit, Utamanya pada boss kedua ke boss ketiga yang menurut saya pribadi difficulty spikenya terlalu suram. Pun juga dengan Area kedua yang mengenalkan adanya environmental damage.

Pada setiap sesi, pemain akan menyelesaikan ujian dengan mengitari area berbentuk hexagonal, setiap area selesai akan ada tiga pilihan blessing, yang jujur saja dari awal hingga selesai jenisnya tidak banyak berubah. Blessing ini pun jadi salah satu faktor penentu kalian untuk bisa melawan boss di boss room.

Poin dan material yang kalian dapat bisa digunakan untuk membuat equipment, senjata dan consumable yang nantinya akan ada mini game yang mengingatkan pada judgement ring Shadow Hearts series. 

Aspek paling unggul dari Grim Trials menurut saya bukan pada elemen roguelike, melainkan ada pada mekanisme combatnya, secara sederhana adalah combat yang button precision hingga ke level frame yang membuat setiap pencetan tombol penuh perhitungan.

Avelin juga bisa melakukan cancel attack di tengah-tengah animasi yang berjalan, baik pivot dengan special, long range attack atau sekedar dash untuk menghindar.

Hal ini sangat mengakomodasi bagaimana pemain bisa bermain lebih taktis, maupun fast paced dengan mengandalkan pencetan tombol yang cepat dan respond times pada game yang akurat.

Faktor ini juga yang diperkuat dengan jenis senjata yang punya range serangan berbeda, seperti serangan horizontal satu arah, atau circular dengan palu gada.

Namun sayang, pilihan jenis senjata ini cukup minim dan kadang membuat bosan. Modifier yang diberikan lewat status pada equipment dan set yang digunakan setidaknya bisa membuat pengalaman bermain yang berbeda.

Music & Audio Production

Glory Jam menyematkan kata heavy metal action game pada Grim Trials bukan hanya sebagai gimmick, lantunan musik heavy metal sepanjang permainan pada stage trial benar-benar membakar semangat. Menariknya lagi saya tidak menemukan adanya distraksi maupun keanehan pada komposisi background music, sekalipun volume BGM jauh lebih dominan daripada suara lain.

Musik heavy metal yang bermain sepanjang stage seakan menjadi penyempurna dan bumbu terakhir dari setiap hit sound effect, special sound effect dan beragam audio design di dalam game. Semuanya terasa menjadi satu bagian yang saling melengkapi.

Control & Mapping

Sedari awal Glory Jam merekomendasikan bermain menggunakan controller. Benar saja, apa yang saya rasakan bermain menggunakan mouse & keyboard hanya menyulut emosi karena button mapping serta pengalaman bermain yang sama sekali susah saya adaptasi. Oleh karena itu controller adalah jalan satu-satunya menikmati Grim Trials saat ini. 

Ini sendiri terasa pada bagaimana secara desain, Grim Trials mengandalkan aim saat menyerang, baik untuk light attack hingga dash yang diarahkan menggunakan mouse. Hit area dan hurt box dari Avelin maupun para monster juga presisi, yang mana membuat sedikit saja eror pada kalkukasi menjadikan speedrun dalam game over. Belum lagi button pada movement, special attack dan dash yang aneh dan susah untuk diraih.

Intinya, mainlah menggunakan controller. Tidak punya controller? selamat beradaptasi dengan sabar hingga kalian memutuskan untuk membeli controller.

👍️ Kelebihan

Penulisan serta mekanisme combat yang membuat gameplay fun dan nagih

👎️ Kekurangan

Variasi senjata minim dan control yang buruk untuk mouse & keyboard

🎮️ Kesimpulan

Sebuah game action rogulike yang tidak hanya aksi, tapi juga cerita serta penulisan yang dipresentasikan dengan baik

Fakhri Sholih
Fakhri Sholih
Articles: 67

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *