
Waktu Death Stranding rilis di tahun 2019, banyak gamers yang memberikan label bahwa game perdana dari hideo kojima setelah keluar dari konami tersebut adalah game JNE simulator atau walking simulator. Karena mayoritas dari gameplaynya sendiri seputar sang karakter utama Sam yang mengantarkan paket dan membangun instrafuktur dalam dunia di death stranding, dan kemudian akan saling terhubung ke pemain lain di seluruh dunia, yang nantinya akan membuat suatu sistem yang memudahkan permainan hasil dari koneksi antar pemain.
“Orang-orang yang belum memainkan game ini terus mengatakan hal-hal seperti ‘Ini hanya sebuah game walking simulator,’ seolah-olah mereka benar-benar telah memainkannya. Fakta bahwa sentimen ini masih bertahan adalah hal yang paling menakutkan,” komentar Kojima.
Hideo kojima sendiri rupanya masih belum terima dengan pernyataan bahwa death stranding adalah sebatas game walking simulator, ini ia sampaikan lewat obrolan dua arah bersama sutradara film Digger Alejandro González Iñárritu melalui channel youtube Gizmodo Japan hari ini.
Berbicara soal tema yang lebih luas dari Digger, Kojima menyebutkan bahwa film baru Iñárritu mengingatkan dirinya pada game Metal Gear Solid 2 tahun 2001, yang sering disebut-sebut telah “memprediksi” masyarakat digital tempat kita hidup saat ini.
“Dulu, media sosial belum ada, tetapi saya menggambarkan sebuah cerita di mana media sosial menjadi hidup. Dan sekarang, itu telah menjadi kenyataan kita, dan hal yang sama terjadi di Digger. Di media sosial, hoax menyebar luas, dan ada kemungkinan mengerikan bahwa hal itu dapat memengaruhi politik dan kehidupan sehari-hari kita,” komentar Kojima.
Iñárritu kemudian menunjukkan bahwa hal yang paling menakutkan baginya adalah manusia yang kehilangan kontak dengan “realitas bersama.” Algoritma mendikte konten apa yang dapat dilihat orang di smartphone mereka dengan cara yang ia gambarkan sebagai hanya diperlihatkan “kebenaran yang terfragmentasi.”
Saat membahas topik tersebut lebih lanjut, Kojima menyebutkan kritik awal terhadap Death Stranding, yang dikenal dengan alur gameplay berbasis pengiriman yang unik.
“Orang-orang yang belum memainkan game ini terus mengatakan hal-hal seperti ‘Ini hanya sebuah game walking simulator,’ seolah-olah mereka benar-benar telah memainkannya. Fakta bahwa sentimen ini masih bertahan adalah hal yang paling menakutkan,” komentar Kojima.
Kojima kemudian melanjutkan bahwa masa depan dimana Iñárritu sebut sebagai realitas bersama bisa jauh lebih berbahaya saat AI masuk kedalamnya, karena pada akhirnya manusia hanya akan dan mau menerima informasi atau opini yang mereka sukai saja, dan lama-kelaman manusia tidak terbiasa diperlihatkan oleh sesuatu yang diluar opini dan kepercayaan yang mereka rasa benar.
sumber: Gizmodo Japan







