Memasuki masa akhir konsol generasi ke-9 kita akan segera masauk ke generasi berikutnya di tahun 2028 mendatang

Era konsol generasi ke-9 yang saat ini tengah berjalan, memasuki penghujung waktunya. Pada akhir tahun 2027 atau awal 2028 akan menjadi tahun lahirnya era video game selanjutnya untuk generasi ke-10, tak bisa dipungkiri memang dengan kondisi hardware dan komponen utama untuk produksi ini cukup mengkhawatirkan.

Namun, jika melihat ke forum-forum di internet dengan salah satu informan cukup terpercaya yang mengatakan, bahwa konsol generasi ke-10 optimis untuk diluncurkan sesuai dengan jadwal.

Saat ini memang kita masih belum mendapatkan informasi apa yang akan menjadi definisi utama untuk konsol generasi ke-10, yang meskipun setidaknya Microsoft sudah mengenalkan project helix pada awal tahun ini. Tapi, informasi lengkapnya pun masih akan dibagikan tahun depan.

Secara pribadi, saya sendiri sepertinya akan sulit untuk tertarik dan antusias melihat bagaimana konsol video game generasi ke-10 akan dirilis, secara kurang dari satu tahun di 2026 sendiri lebih banyak berita dan kabar kurang menyenangkan dari industri video game.

Sony Hentikan Produksi Disc untuk Konsol Next-Gen

Tulisan ini saya mulai tidak lain karena berita terbaru dari Sony melalui playstation blognya yang terbit malam kemarin. Sony mengatakan bahwa mereka akan menghentikan produksi dari blu-ray disc untuk konsol video gamenya, efektif mulai Januari 2028 dengan alasan dibawah ini,

This is a natural direction for Sony Interactive Entertainment to adapt to consumer trends as the general preference for digital media significantly outpaces physical discs. This transition will enable us to align more closely with how most of our community prefers to access and play games today.

Berdasarkan data dari Gamefile, distribusi dan penjualan lewat game digital sendiri terdapat peningkatan cukup tinggi sejak tahun 2016, hingga akhirnya mulai berkembang pada tahun 2020 dengan tren konsumer yang lebih memilih membeli rilisan video game pada platform Sony melalui Playstation Network, yang tak bisa dipungkiri menjadi efek positif dari wabah pandemi dan kebijakan lockdown 6 tahun lalu.

Data ini menjadi sinyal bagi Sony, bahwa mayoritas pengguna pada Playstation lebih nyaman dengan membeli game secara digital.

Perlu diketahui bahwa, setiap rilisan video game pada platform Sony, utamanya yang menggunakan blu-ray disc seperti pada PS3, PS4 dan PS5 harus melalui persetujuan Sony.

Berita mengenai dihentikannya produksi blu-ray disc, otomatis membuat distribusi video game pada platform milik Sony secara fisik akan terhenti. Tidak akan ada lagi perilisan untuk Marvel’s Spider-Man 3 atau Bloodborne 2 misalnya dengan edisi box berisikan kaset blu-ray.

Memasuki Januari 2028, distribusi video game untuk platform Sony akan sepenuhnya dalam bentuk digital, dan tidak dipungkiri juga bahwa ini akan menjadi era konsol generasi ke-10 dengan generasi ke-16 Playstation, atau PS6.

Lantas, ini otomatis membuat harga dari game digital akan turun ? sepertinya mustahil. Langkah ini justru akan menjadi cara Sony memaksimalkan margin keuntungan, dengan menghentikan produksi dan distribusi blu-ray disc yang otomatis menaikkan profit dari penjualan software atau video game pada playstation network.


Xbox Menguji Fitur Game Fisik Menjadi Digital

Konsol video game bukan hanya Sony dengan Playstation, kubu hijau atau Xbox dari Microsoft masih akan eksis setidaknya untuk satu generasi kedepan. Kemudian, bagaimana dengan langkah dari project helix ? atau konsol generasi berikutnya dari Xbox.

Cukup sulit sebenarnya mengikutsertakan Xbox dalam pembahasan mengenai konsol video game saat ini, mengingat Microsoft sendiri setengah hati dalam mengoperasikan divisi gamingnya tersebut. Akan tetapi dengan kepemimpiman baru oleh Asha Sharma, Xbox masih patut untuk diperhitungkan.

Membahas seputar masa depan video game lewat rilisan fisik, sebenarnya pun Xbox dirumorkan tengah menguji coba sebuah fitur untuk project helix, yang mana fitur ini akan memungkinkan pengguna untuk merubah game versi fisik, atau disc menjadi game digital sepenuhnya.

Fitur ini merubah DRM pada disc menjadi DRM digital. Seperti pada artikel dari The Verge hari ini, pengguna cukup memasukkan disc Xbox One maupun Xbox Series ke konsol, yang nantinya akan berubah menjadi game digital seutuhnya ke akun yang menempel pada konsol Xbox tersebut.

Manfaatnya ? pengguna bisa menggunakan fitur seperti Xbox Cloud Gaming dan Xbox Play Anywhere tanpa perlu memasukkan disk ke dalam konsol.

Sebenarnya fitur ini hanya terlihat positif sebagai langkah Xbox untuk mendukung gerakan backward compatible gaming, yang mana belum ada informasi apakah Xbox akan mengikuti langkah Sony untuk menghentikan dukungan dan produksi blu-ray disc, atau rilisan fisik pada konsol video gamenya.

Tidak akan menutup kemungkinan bila Microsoft juga akan mengikuti langkah Sony, terlebih saat ini divisi gaming atau Xbox merugi sekitar $500 juta dolar tahunan dalam lima tahun terakhir, yang memantapkan Microsoft untuk lebih memilih distribusi game lewat digital sepenuhnya dengan memasarkan fitur andalannya seperti xbox play anywhere dan xbox cloud gaming.

Tahun 2028 Resesi Video Game Jilid 2?

Sekarang mari kita masuk ke topik akhir dari artikel pendek ini, bagaimana dengan masa depan konsol video game generasi ke-10?

Informan atau leakers yang biasa membocorkan informasi seputar AMD, Kepler_L2 mengatakan bahwa konsol generasi berikutnya masih dipastikan untuk rilis sesuai jadwal, yakni akhir tahun 2027 atau awal tahun 2028.

Melihat kondisi di industri video game saat ini, secara pribadi saya cukup susah untuk ber-euforia dengan teknologi apa yang akan dihadirkan oleh Sony dan Microsoft nantinya. Bagaimana tidak? pasokan DRAM dan NAND yang kian menipis dan mahal imbas permintaan untuk AI (Artificial Intelligence) membuat produksi hardware dengan dua komponen tersebut, akan jauh dari definisi konsol video game.

Konsol video game selama ini kita kenal sebagai sebuah medium terjangkau untuk menikmati hiburan dengan video game, fakta ini juga menjadi sebuah rahasia umum bila Sony, Microsoft maupun Nintendo menjual hardwarenya dengan harga rugi atau tanpa margin keuntungan sama sekali.

Kemudian kita juga akan bersiap dengan tidak akan adanya rilisan fisik untuk judul game yang rilis mulai Januari 2028, dan rilisan tersebut kemungkinan besar akan mulai mengadopsi harga “normal” baru di $80 atau Rp 1.190.000 jika mengikuti harga regional di Indonesia.

Ini akan menjadi lebih pelik dengan hanya akan ada rilisan digital, dimana penyedia publisher dan penyedia platform (Sony, Microsoft, Nintendo) bisa dengan sepihak menghapus video game yang kita beli sebelumnya. Tanda kepemilikan kita lewat DRM digital tidak akan pernah menjadi se-absolut bagaimana physical copy atau kaset fisik.

Untuk tambahan informasi, pada tahun 2019 Sony resmi menghentikan distribusi software melalui third party retailer, yang mana dulunya kita masih bisa membeli game digital selain dari playstation network. Memasuki Januari 2028 sony akan menjadi platform monopoli secara utuh, dengan pengguna yang hanya bisa membeli video game lewat playstation network semata, tanpa adanya opsi physical copy lewat retailer resmi.

Kondisi dari industri video game ini sendiri juga tengah berada pada rasa takut berkelanjutan akan badai phk yang seakan menjadi acara rutin yang diadakan setiap musimnya. Perusahaan-perusahaan video game utama seperti Ubisoft, Microsoft dengan Xbox, Rockstar Games dan studio eropa serta amerika utara lainnya kerap kali melakukan russian roulette kepada para karyawannya, atas apa ?

Tidak lain karena kesalahan para eksekutif yang membuat keputusan bisnis dan strategis salah di pasaran, membuat rilisan game tebarunya entah gagal mencapai target atau target itu sendiri yang diekspektasikan terlalu besar.

Untuk itu, daripada mengurangi gaji atau memberikan hukuman kepada para eksekutif tersebut, ratusan bahkan ribuan karyawan akan menjadi target dari kesalahan yang mayoritas mereka tidak perbuat.

Berbagai faktor ini bukan mustahil bila industri video game akan mengalami resesi untuk kedua kalinya, pertama sejak tahun 1983. Sesederhana dengan harga komponen dan hardware yang melambung tinggi, diikuti dengan harga software yang tidak kalah tinggi, serta dibatasinya pilihan dalam membeli rilisan video game kedepannya.

Publik juga mulai tidak percaya dengan para perusahaan-perusahaan video game dengan maraknya layoff, angka penjualan yang mustahil, menjamurnya live service game tanpa riset dengan microtransaction tak terkontrol.

Belum lagi dengan segala sesuatu yang memaksa pengguna untuk berlangganan layanan yang disediakan oleh platform.

Konsol video game lambat laun tak ada ubahnya dengan PC gaming, mulai dari harga hingga pengalaman bermain yang ditawarkan. Hanya saja kini konsol akan jauh lebih tidak berpihak kepada konsumer.


Fakhri Sholih
Fakhri Sholih
Articles: 67

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *