kolaase gambar linda dreadout, budi troublemaker dan fractal of destiny

Eurojank adalah sebuah game indie yang lahir di eropa timur dan menjadi simbol semangat dan mimpi di awal milenium

Eurojank mungkin akan asing bagi mereka yang tidak terlalu akrab dengan pc gaming di era tahun 2000-an, kata eurojank sendiri merujuk pada sebuah rilisan video game yang dikembangkan oleh studio indie dari eropa, utamanya dari kawasan eropa timur yang kadang condong ke atas, yang mana terdapat subgenre sendiri sebagai slavjank game.

Salah satu ciri khas dari game eurojank adalah sebuah game yang terasa begitu ambisius, seakan game tersebut dikembangkan oleh studio dan publisher besar dengan budget yang yang tak kalah besarnya juga. Akan tetapi justru sebaliknya, game-game eurojank mengedepankan visual dan presentasi, lalu mengorbankan aspek penting seperti teknikalitas, pemolesan tahap akhir dan berakhir dengan pengalaman bermain penuh bug dan glitch.

Mayoritas game eurojank ini pun tentu adalah game full 3D, saya pun penikmat dan pernah ada dalam masa mengunduh game-game eurojank saat mencari sesuatu untuk dimainkan saat remaja. Kini, saya tersadar hingga akhirnya memutuskan untuk menulis artikel ini.

Apakah indonesia punya game eurojank versi lokalnya? karena eurojank sendiri membawa semangat, mimpi dan ambisi para developer untuk membuat suatu video game dengan visi mereka yang berapi-api.

Indojank Pertama?

Untuk menetapkan apa game indonesia pertama yang kira-kira punya kesamaan dengan eurojank, saya yang tidak terlalu mahir dan hafal tentang sejarah game indonesia hanya tertuju pada satu game horor dari studio indie asal bandung.

Dreadout, game survival yang terjahit di ingatan saya mungkin bisa menjadi referensi awal yang akan sukar rasanya terlupakan, saya hampir setiap minggu menghabiskan waktu saat jam IT di lab komputer saat SMA memainkan versi demonya.

Sebagai seseorang yang biasa bermain game matang dan terkenal waktu itu, respon pertama saat memainkan demo dreadout tidak lain adalah, kenapa game lokal satu ini memaksa bergaya penuh 3D jika model karakter hingga environmentnya terasa berantakan dengan animasi yang aneh dan kaku.

Meskipun begitu, saat versi penuhnya dirilis dreadout adalah salah satu game yang memancing rasa penasaran. Memainkan dreadout original versi penuh kembali menumbuhkan ingatan saya saat memainkan game-game eurojank kala itu, seperti Risen 3, Styx series, Gothic 2, Sacred 2 Fallen Angel dan lainnya.

Kemudian saat mengingat pengalaman tersebut, rasanya menempatkan dreadout sebagai salah satu game eurojank pertama ala indonesia cukup tepat. Digital Happiness juga membawa tema horor dan setting lokal yang juga membawa subgenre folk horror tumbuh. Game-game eurojank juga akrab dengan membawakan tema dan budaya lokal, yang mana adalah apa yang diberikan dengan sempurna oleh dreadout.

Cikal Bakal Indojank?

Dreadout original rilis pada tahun 2014 yang butuh waktu cukup lama game 3D lain dari developer dan publisher lokal yang rilis sebelum memasuki dekade baru di 2020.

Baru lah di tahun 2021 sebuah game 3D datang dari studio lokal kecil yang kala itu tercatat baru merilis game A Day Without Me. Parakacuk langsung menjadi perhatian para gamers di indonesia dengan permintaan untuk versi demo yang memadati sosial media.

Saat demo pertama game dengan membawa tema tawuran dengan kehidupan sehari-hari anak SMK dirilis, saya pun menjadi salah satu yang ikut euforia tersebut. Saat pertama kali memainkan demonya, kipas laptop saya otomatis ada pada turbo mode dan yap, ini merupakan sebuah game ambisius yang melupakan seni dari optimalisasi.

Demo parakacuk yang terasa dibuat dengan apa adanya tersebut mengundang berbagai respon negatif, hingga sang founder datang dalam sesi podcast bersama The Lazy Monday. Pada akhirnya, demo parakacuk ditarik dari steam dan Gamecom Team selaku pengembang melakukan perbaikan di berbagai sektor. Hingga setahun kemudian parakacuk yang berubah nama menjadi troublemaker rilis di steam.

Memainkan troublemaker yang sudah berevolusi dari parakacuk memang tidak serta merta menjadi pengalaman bagai langit dan bumi, namun keduanya punya satu pengalaman bermain yang sama. Yakni kental akan ambisi dan mimpi di setiap aspek yang dibangun pada gamenya. Mulai dari model karakter, animasi dan cutscene yang ingin dibuat se-sinematik mungkin, begitupun dengan berbagi fitur dan mekanisme yang tergolong terlalu berlebihan untuk sebuah game dengan budget dan resource seadanya.

Kunci dari ini semua tentu ada pada passion dan ambisi, dan ini ada pada troublemaker hingga sekuelnya troublemaker 2: beyond dream.

Kembali pada dreadout yang juga merilis sekuelnya di tahun 2023, dan tak kalah ambisiusnya dengan troublemaker. Dreadout original yang awalnya merupakan sebuah game survival horor tipikal dengan tunneling story, kini berevolusi menjadi game semi open world dengan model 3D dengan presentasi lebih sinematik.


Game-game ambisius tak napak tanah adalah masa depan

Selain kedua series game tersebut, di tahun 2024 juga saya sempat mencoba sebuah game yang tak kalah ambisiusnya dan layak masuk sebagai game indojank.

Jika dreadout dan troublemaker bermain pada tema dan setting yang grounded dan dekat dengan keseharian, Fractals of Destiny dari Krakatoa studio justru membuat game dengan tema sci-fi fantasy kental sebelum ShiftUp merilis stellar blade.

Fractals of Destiny mungkin, bagi saya pribadi bisa menjadi sebuah blueprint akan melihat bagaimana ciri-ciri game eurojank pada level potensialnya. Mulai dari cerita dan penulisan yang berani, hingga fitur dan mekanisme yang tak tanggung-tanggung namun terbentur terbatasnya resource, membuat eksekusinya jadi setengah-setengah.

Ada pula yang tak setengah-setengah ada pada segi visual dan presentasi Fractals of Destiny pada sebuah dunia sci-fi yang berhasil membawa para pemainnya peduli dengan karakter dan premis di dalam game.

Salah satu aspek menarik dari eurojank adalah lahirnya pula talenta pengisi suara dari skena lokal, dan ini juga yang tumbuh bersama game-game lokal yang dirilis maupun akan dirilis.

Bahkan dengan hanya berbekal perlengkapan sederhana, para voice actor dan voice actress lokal mampu mengeluarkan potensi terbaiknya, yang kemudian turut menarik perhatian dunia pengisi suara di industri lokal, tidak hanya video game melainkan juga animasi dan film indie.

4 Upcoming indojank greatness in 2020s

Kini di dekade 2020-an semakin banyak video game dari developer lokal yang mengadopsi full 3D untuk projectnya, beberapa diantaranya terlihat begitu matang dengan developer dibaliknya yang berpengalaman di bidangnya, namun beberapa lainnya juga bisa menjadi penerus dari game seperti dreadout, troublemaker dan fractals of destiny.

Dalam pengetahuan saya yang terbatas untuk game indonesia, setidaknya ini adalah empat game dengan gaya full 3D yang membawa semangat sebagai indojank di dalamnya,

Legend of Cendrawasih yang dipamerkan pertama kali pada tahun 2020 yang kemudian resmi menjadi Biwar: Legend of the Dragon Slayer dua tahun setelahnya. Project ambisius dengan inspirasi dari cerita rakyat papua dan budaya bali ini cukup menarik perhatian lewat livestreaming gameplay oleh Windah Basudara.

Devata Game Production memberikan sebuah visual memukau dengan mekanisme gameplay menarik dalam game third person action pertamanya tersebut. Sayangnya, hingga kini informasi untuk Biwar Legend of Dragon Slayer cukup terbatas, termasuk untuk tanggal perilisannya.

Kala Vikrti merupakan salah satu project yang jujur membuat saya kaget, karena Satriver Studio asal Malang tidak seperti sekumpulan orang-orang yang akan membuat project sefenomenal ini.

Sebelum menjadi seperti saat ini, Kala Vikrti adalah project karecok yang punya semangat dan ambisisi membuat suatu game original yang belum pernah dibuat di indonesia. Satriver studio menggabungkan tema gelap mistis ala zaman kerajaan nusantara kuno di era singorasi dan kediri.

Membawa cerita sejarah dan kebudayaan lokal sebagai game soulslike tentu adalah kombinasi nyaris sempurna, dan melihat trailer perdananya akhir tahun lalu mengingatkan pada game seperti Kingdom of Amalur:Reckoning dan Sacred 2.

Parakacuk boleh dihujani kritik dan diremehkan saat debutnya, namun mimpi ambisi Nanda dan Gamecom Team lebih membara daripada kritik yang menghujamnya. Troublemaker 2: Beyond Dream cukup sukses dari segi kritik dan ekspektasi sang publisher Indie.io berdasarkan klaim dari Nanda.

Kini, Troublemaker 3 resmi dikenalkan dan sedang dalam masa pengembangan penuh dengan lebih ambisius dan ngawur sebagai game yang akan mengadopsi full cinematic experience.

Gamecom Team juga merilis sebuah teaser yang akan membuat troublemaker 3 layaknya High&Low series dengan 5 distrik dengan 5 leader uniknya masing-masing, atau mungkin juga lebih dekat sebagai stranger than heaven dari indonesia.

Mengetahui bahwa si buta dari gua hantu akan mendapatkan adaptasi game, jelas menjadi sebuah kejutan yang memancing rasa penasaran. Pasalnya ini akan menjadi salah satu licensed game paling ambisius dalam sejarah industri video game indonesia.

Rizero Studios dipercaya membawa The Blind Warrior dari Bumilangit Entertainment yang akan menceritakan kisah petualangan epik barda mandrawata melawan penjajahan belanda di bumi indonesia pada tahun 1960-an. Adaptasi yang dikembangkan oleh Rizero studios ini pun menarik dengan membawa menanisme dari bagaimana si buta dari gua gantu melihat dunia dan meresponnya.

Setting tempat pada indonesia di era 1960-an pada pedesaan cukup membua para fans berangan-angan akan gameplay stealth dan action yang ambisius ini.


Selain empat game potensial tersebut, tentu terdapat beberapa game besar bergaya full 3D yang tak kalah menariknya. Namun, jika melihat judul seperti Agni: Village of Shadows, Liro: Divine Corruption dan Acts of Blood rasanya ketiga game tersebut tergolong matang dan sesuai porsi, mengingat orang dibalik project tersebut punya pengalaman panjang di industri video game untuk bisa mengatur seberapa besar cakupan project yang dikembangkan.

Sedangkan eurojank, identik dengan project ambisius yang hampir tak ada batas, cenderung terobos sana-sini untuk bisa menghadirkan sebuah karya yang ambisius dengan resource seadanya.

Perlu diketahui pula bahwa sebutan eurojank, americajank dan saat ini Indojank bukanlah sebuah candaan maupun kritik untuk subgenre yang lahir dari budaya, melainkan adalah sebuah penghormatan atas ambisi dan semangat yang tak terbendung oleh keterbatasan budget dan resource.

Faktanya, banyak game dan franchise besar yang berawal dari eurojank, seperti The Witcher 1 dan The Witcher 2 yang kemudian berevolusi menjadi the Witcher 3 yang menjadi game of the year tahun 2015, dan menjadi legacy titles di era modern saat ini.

Kemudian ada S.T.A.L.K.E.R series dengan sekuelnya yang rilis dua tahun lalu dianggap bak cawan emas suci eurojank games, lalu yang kini tak kalah populernya adalah Kingdom Come Deliverance yang cukup sukses dengan sekuelnya yang mendefinisikan ulang western RPG dengan tema dan cerita grounded.

Industri video game indonesia kini bukan lagi ada dalam fase pemanasan, para kreator hingga developer dibaliknya sudah mulai berlari kecil mengejar mimpi dan ambisinya, termasuk untuk game-game penuh resiko dengan visual full 3D yang akan membawa indonesia, asia tenggara bersama latin america menjadi lanskap industri video game potensial selanjutnya setelah asia timur.

Fakhri Sholih
Fakhri Sholih
Articles: 71

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *