
Perjalanan berita akan nasib dari studio yang didirikan oleh kreator Yakuza series, Toshihiro Nagoshi membuat para penggemarnya khawatir. Karena sejak pemberitaan oleh Bloomberg di awal tahun ini, Nagoshi Studio dikabarkan sedang kesusahan masalah finansial setelah NetEase Games selaku publisher lepas tangan akan kelanjutan proyek Gang of Dragon.
Praktis per tanggal 2 November siang kemarin, Gamespark mendapatkan informasi bahwa Nagoshi Studio secara resmi ditutup lewat voting para shareholdernya pada tanggal 31 Oktober 2026, nasib sebenarnya dari Nagoshi Studio sendiri cukup abu-abu dengan tertutupnya informasi yang cukup aneh mengingat sebelum akhir tahun 2025 Toshihiro Nagoshi selalu memberikan update melalui blog post website resminya. Andy Robinson dari VGC sendiri merupakan media game dari barat yang sempat mengunjungi Nagoshi Studio dan memberikan komentar pada tanggal 5 Oktober tahun ini bahwa studio tersebut sudah benar-benar tiada, sekalipun hak nama dan statusnya masih aktif.
Gang of Dragon sendiri pertamakali diumumkan sebagai game debut Nagoshi Studio pada The Game Awards 2025, namun karena satu lain hal bloomberg melaporkan kabar NetEase Games yang mundur dari proyek, dan studio masih membutuhkan sekitar $45jt dolar untuk menyelesaikan proyek tersebut.
Punya Nama dan Portfolio Tidak Menjamin Suksesnya Masa Depan
Nasib dari Nagoshi Studio mungkin cukup pelik dengan ditutupnya studio sebelum bisa merilis game pertamanya sejak didirikan pada tahun 2021 lalu, sedikit berbeda namun punya ending yang sama mungkin bisa disematkan pada Liquid Swords Studio dari kreator Just Cause yang juga baru-baru ini studionya ditutup karena tidak berhasil meraup keuntungan untuk bisa membayar gaji para karyawannya yang macet selama berbulan-bulan.
Christopher Sunburg mendirikan studio independenya tersebut setelah keluar dari Avalanche yang kemudian memilih untuk mengembangkan proyek game apa adanya yang ia sebut sebagai budget AA untuk game kualitas AAA dengan harga yang bersahabat. Namun disayangkan, Samson A Tyndelston Story rilis dengan secara awut-awutan dengan kualitas produksi penuh bug dan glitch yang membuat skornya jeblok ke angka 50-an di metacritics. Para penggemar juga mengeluhkan pengalaman yang sama, meskipun ide dan eksekusinya dipuji karena cukup revolusioner. Perilisan dari game tersebut tidak bisa menutup nilai investasi yang digelontorkan oleh Sundburg, berbeda dengan Toshihiro Nagoshi yang belum sempat merilis gamenya dan dipaksa bertekuk lutut dengan masa depan Gang of Dragon sebagai alternatif Yakuza series.
Pengalaman kedua kreator senior ini memang berbeda, namun punya konsklusi yang sama, yakni industri video game di era 2020-an nyatanya memang brutal dengan pasar yang semakin tersaturasi, biaya pengembangan yang terus naik setiap tahun serta permintaan dari publisher atau pemodal yang terkadang tidak bisa sejalan dengan visi kreatif sang kreator dengan membutuhkan waktu dan disiplin tinggi untuk bisa menghasilkan suatu karya yang sukses secara kritik maupun finansial.
Jika kalian suka dengan artikel yang kami tulis, Bisa dukung kami melalui Saweria.
Untuk yang mau interaksi lebih lanjut, Jangan lupa juga ikuti Ministry of Gamers di berbagai sosial media. Twitter, Facebook, Threads, atau Instagram yang mana untuk tetap bisa up to date dengan berita, rumor, maupun review.





